15 Tahun Lagi, Lelaki China Sulit Dapat Istri
Kurang dari 15 tahun lagi, 30-an juta laki-laki dewasa di China kemungkinan akan kesulitan mendapatkan istri. Pasalnya, jumlah laki-laki saat itu akan membeludak, sebaliknya jumlah perempuan menyusut. Kondisi ini adalah buah dari kebijakan satu anak yang ditetapkan Pemerintah China pada akhir tahun 1970-an.
Sialnya, karena alasan budaya dan lainnya, pasangan suami-istri di China lebih senang memiliki anak laki-laki ketimbang anak perempuan. Sudah menjadi rahasia umum jika pasangan suami-istri di China banyak yang melakukan aborsi terhadap janin berjenis kelamin perempuan.
Praktik semacam ini membuat jumlah laki-laki dan perempuan tidak seimbang. Tengok saja taman kanak-kanak di Huizhou. Di salah satu kelas, ada 39 murid laki-laki dan hanya ada 8 murid perempuan. Di sebuah desa di Pulau Hainan, laki-laki yang tidak berjodoh pun makin banyak. Padahal, mereka rata-rata lahir sebelum kebijakan satu anak diberlakukan.
“Di desa kami ada lebih dari 100 laki-laki berusia antara 18-40 tahun yang tidak kawin. Orang-orang di desa sekitar kami juga mengalami hal yang sama,” kata Liu Yaxiao, warga Hainan, seperti dikutip situs BBC, Senin (12/2).
Dia mengatakan, perempuan di desanya yang jumlahnya sedikit, memilih pergi ke kota untuk bekerja. “Saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan dan di mana harus mencari istri. Bagaimana kami bisa kawin?” kata Liu.